Pura Ulun Subak Bukit Jati

Pura Bukit Jati merupakan Pura Dangkhayangan. Pura ini sebagai hulun subak yang di-empon oleh warga subak basah dan abian di Kabupaten Bangli. Pura yang belum diketahui angka pasti tahun berdirinya ini telah menjadi simbol kesejahteraan petani di Bangli. Pura ini juga sebagai salah satu perlambang kesuburan ekonomi masyarakat Bangli. Apa saja makna di balik bangunan Pura Bukit Jati itu?

BEGITU memasuki Pura Bukit Jati, udara terasa sejuk. Rasa damai pun masuk ke relung

hati. Begitu dahsyatnya ciptaan Tuhan (Hyang Widhi Wasa). Pura ini berlokasi di Dusun Guliang Kawan Desa Bunutin, Bangli. Bangunan suci ini berdiri kokoh di atas Bukit Jati.

Orang-orang yang memperdalam spiritual akan sangat menyukai tempat ini. Keasrian pura ini belum begitu banyak dijamah manusia. Dari areal pura ini akan terlihat panorama indah kawasan persawahan serta Bali bagian selatan bersama lautnya yang membiru. Keindahan panorama yang bisa dinikmati dari wilayah ini semakin memperkuat daya magis yang terpancar dari pura ini. Tidak salah kini Pemkab Bangli getol mempromosikannya sebagai salah satu tempat wisata alam.

Berdasarkan purana, sejarah pura tersebut sampai kini masih belum jelas. Meski begitu, jumlah panyungsung pura ini yang masih aktif  sekitar 776 orang. Krama yang masih aktif itu berasal dari empat kelurahan meliputi Bebalang, Desa Tamanbali, Bunutin dan Demulih. Sementara krama tidak aktif berasal dari seluruh subak kering atau abian se-Bangli.

Penanggung jawab Pura Bukit Jati Bangli I Wayan Sukania menjelaskan, pada tahun 1994 kondisi pura belum terawat seperti sekarang. Ketidakterawatan sangat tergantung kemampuan krama panyungsung. Selama ini seluruh biaya tidak saja prosesi yadnya, pembangunanya masih mengandalkan pola partisipasi warga subak yang masih eling.

Dikatakannya, dalam tahun yang sama tepatnya sasih keenem semestinya warga subak sudah melakukan ritual nangluk merana. Ternyata upacara dan prosesi itu telat dilakukan karena keterbatasan dana yang dimiliki krama subak, sehingga hama penyakit menimpa seluruh areal subak di Kabupaten Bangli. Tidak saja walang sangit, juga hama tikus menyerang tanaman petani.

Dalam tahun itu juga dilakukan renovasi pura secara besar- besaran di Pura Bukit Jati. Termasuk pembuatan gelung agung. Dalam satu tahunnya dilakukan empat kali upacara. Bertepatan hari raya Kuningan merupakan pujawali alit, setiap sasih keenam dilangsungkan upacara nangluk merana. Pembiayaan upacara dibebankan kepada 776 warga subak yang aktif secara urunan. Sedangkan warga subak tidak aktif di seluruh Bangli biasanya ngaturang punia secara sukarela. Pelaksanaan yadnya dibagi secara bergiliran oleh empat subak gede selaku pengempon pura secara bergiliran.

Belakangan ini tanah banyak yang beralih fungsi, sehingga menyebabkan jumlah krama subak pengempon pura terus menyusut setiap tahunnya. Persoalan ini sudah sering diperbincangkan, tetapi sampai kini masih belum terpecahkan. Diharapkan, persoalan ini agar menjadi perhatian seluruh pihak di Bangli. Komitmen menjaga kelestarian pura ini sangat penting mengingat peran serta fungsi pura sebagai simbol penjaga kesuburan. Dari tanah yang subur ini diharapkan para petani bisa memetik hasil kebun, sehingga kesejateraan petani menjadi meningkat.

Bermula dari sawah pribadi ada yang namanya Pelinggih Batari Sri (pangalapan), satu tingkat di atasnya masih dalam satu tempek subak yakni nyungsung Pura Dugul. Kumpulan sejumlah tempekan dalam satu subak nyungsung Masceti. Kumpulan Masceti di Bangli akhirnya nyungsung Pura Bukit Jati. Sehingga sebagai pangemong Pura Bukit Jati adalah seluruh warga subak di Bangli.

Ritual yang selama ini rutin dilakukan warga subak yakni upacara nangluk merana. Meminta kesuburan kepada Ida Batari semoga hasil pertanian warga melimpah dan terhindar dari penyakit. Di samping upacara nangkluk merana, juga dilaksanakan karya pujawali yang dilangsungkan secara rutin setiap enam bulan sekali. Selain berhubungan erat dengan Pura Kehen, Pura Bukit Jati sangat erat hubungannya dengan Pura Ulun Danu Batur, Desa Batur dan Pura Hulun Danu Desa Songan.

Dikatakannya, berkaitan dalam ritual mendak tirta pura tersebut memiliki hubungan historis. Di mana sumber mata air bagi kesejahteraan petani di Bangli bersumber dari Danau Batur. Tak pelak lagi, setiap dilangsungkan upacara di Danau Batur itu krama subak pengempon Pura Bukit Jati ngaturang atos.

 

This entry was posted in Pariwisata. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s