Uniknya Pura Langgar di Bunutin Bangli

BANGLI menyimpan tradisi keagamaan unik. Ini tercermin dari ritual upakara Galungan di Pura Langgar. Sesajen babi hanya boleh disajikan di Pura Dalem. “Sajen babi tidak boleh di bawa ke Bale Agung, Kaler, dan Pajenengan,” ujar Pemangku Pura Langgar A.A. Biang Mangku (44).


Pura Langgar berada di Desa Bunutin, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli. Rumah persembahyangan umat Hindu ini dikenal pula dengan nama Pura Dalem Jawa Penataran Agung. Perlu waktu sekitar 15 menit melaju dengan kendaraan bermotor dari Kota Bangli ke arah selatan untuk sampai ke pura ini. Lokasinya di sisi Timur jalan raya. Namun, itu pun harus melewati sebuah gang yang pas ukurannya untuk dilewati satu badan kendaraan roda empat. Pura yang di-empon Puri Bunutin ini memiliki cerita panjang pertemuan budaya Islam dan Hindu. Kisahnya pun menarik. Konon kisah Pura Langgar ada kaitan dengan Kerajaan Blambangan tempo dulu. Bahkan, leluhur kalangan Puri Agung Bunutin syahdan berasal dari trah Raja Blambangan, Jawa Timur.
”Leluhur kami memang berasal dari Blambangan,” ujar penglingsir Puri Agung Bunutin Ida I Dewa Oka Widyarshana.

Kisahnya, bermula dari sosok I Dewa Mas Wilis. Leluhurnya ini beristri dua. Dari rahim sang permaisuri (padmi) lahir dua putra, Ida I Dewa Mas Blambangan dan Ida I Dewa Mas Bunutin. Dari istri penawing alias selir, Mas Wilis mempunyai tiga putra, I Dewa Wayahan Mas, I Dewa Made Mas, dan I Dewa Nyoman Mas.

Regenerasi terjadi di Puri Bunutin. Mas Wilis turun tahta digantikan Mas Blambangan. Namun, raja baru ini mendadak jatuh sakit usai penobatan. Sakitnya terbilang parah. Pelbagai upaya pengobatan sudah ditempuh, namun tak mempan. Masa penderitaannya tak terasa berumur lima tahun sudah.

Kondisi sakit Mas Blambangan yang tak kunjung sembuh mengundang iba adiknya, Ida I Dewa Mas Bunutin. Mas Bunutin berinisiatif melakukan dewasraya di Mrajan Agung. Caranya, ia melakukan yoga samadhi melalui seorang perantara (balian). Selanjutnya sesudah dilakukan ritual khusus (nyanjan) di Mrajan Agung, Jro Balian tadi kontan kerauhan.

Dari mulutnya keluar sabda Ida Bethara, ”“Wahai Mas Blambangan, Mas Bunutin, dan semua yang ada di sini. Aku Dewaning Selam yang bernama Tuhan Allah. Aku minta supaya dibuatkan pelinggih Langgar tempatmu sembahyang kepadaKu. Jika tidak , maka terus-menerus secara turun-temurun akan menderita sakit berat, walau tidak akan mati (gele-gele).

Penyakitnya tidak akan sembuh oleh obat apa pun. Sebaliknya, jika mau membuat pelinggih Langgar sudah pasti sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan. Bahkan kehidupan berikutnya akan senantiasa bahagia serta disegani orang.

Jika ada yang menolak pasti tidak akan mampu bertahan menghadapi penderitaan lahir bathin, malah akan jatuh kewangsan (patita) keluar dari Puri atau Jaba.”
Ucapan Ida Bethara tersebut menjadi alasan pembenar lahirnya Pura Langgar.

Mrajan Agung yang sudah ada diharapkan dilengkapi sebuah pura berbentuk langgar. Ini dianggap sebagai Pelinggih Ida Bhatara Dalem Blambangan untuk mewujudkan bhakti kepada kawitan. Jika tidak dibuatkan pelinggih berupa langgar, penyakit sang raja tidak akan sembuh. Raja Bunutin bakal menderita selamanya.

”Namun, jika dibuatkan langgar, penyakit beliau akan sembuh. Prosesnya tanpa obat. Jika kelak sehat, hidupnya akan selamat sejahtera, bahagia tanpa kekurangan apa pun. Namun, jika ada yang menolak membuat langgar kelak tidak akan selamat. Bahkan, mereka yang menolak ini dibayangkan akan turun wangsa kesatriaannya (sosot).

Keluarga besar Puri Bunutin lalu berembuk. Berdasarkan hasil musyawarah ternyata I Dewa Wayahan Mas, I Dewa Made Mas, dan I Dewa Nyoman Mas tidak setuju membangun langgar. Ketiganya menolak serta siap menerima segala risiko yang akan menimpanya. ”Ketiganya menganggap permintaan membuat langgar dalam areal pura tidak sesuai ajaran Hindu,” tambahnya.

Namun, Raja Bunutin dan adiknya, Mas Bunutin, sanggup mewujudkan pembangunan langgar tadi. Apalgi, renacan ini direstui Raja Gelgel, Klungkung. ”Banguynan langsung diupacarai setelah kelar dibangun,” kisahnya.
Tak lama berselang, kondisi kesehatan Mas Blambangan pulih.

”Raka kemudian menikahi lagi,” katanya.
Sementara Wayahan Mas, I Dewa Made Mas dan I Dewa Nyoman Mas menuju Puri Gelgel. Apa yang terjadi di Puri Bunutin diceritakan kepada snag raja. ”Dalem Gelgel kemudian meminta ketiga bersaudara ini tinggal bersamanya di Puri Gelgel,” jelas dosen Unud ini.

Namun, ketiga lalu dituduh bersekongkol saat terjadi aksi kudeta yang diotaki lima patih Kerajaan Gelgel, Kyai Batan Jeruk, I Gusti Tusan, I Gusti Abian Nangka, I Gusti Bebengan, dan I Dewa Anggungan. Kudeta gagal sehingga para pemberontak ini melarikan diri dari lingkungan kerajaan.

Ketiga saudara tiri Mas Blambangan pun ikut hengkang. I Dewa Wayahan Mas mengasingkan diri ke Desa Abian Bambang, Karangasem. I Dewa Made Mas melarikan diri ke Denbukit, Desa Banjar, Buleleng. I Dewa Nyoman Mas memilih ke Tukad Unda. ”Nyoman Mas konon berputra emapt orang, Wayahan Mas, Made Mas, Nyoman Mas, dan Ketut Mas. Sayangnya, jejak keturunannya tak diketahui hingga kini,” ujarnya. —sam

This entry was posted in Pariwisata. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s